~~~~~~~~~~Fille~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~Fille~~~~~~~~~~~~
nuri

Jumat, 27 September 2013

CINTA DIBALIK KUAS&PENA Part 3


Keesokan harinya setelah sampai disekolah Nadin tidak melihat Pak Satpam yang biasanya selalu berdiri mengawasi murid murid yang masuk dengan mengendarai kendaraan, setelah lama mencari akhirnya Pak Satpam datang menuju Pos, ia meminta maaf pada Nadin karena harus keruang piket memberikan surat dari salah seorang murid yang tidak masuk. Tak lama setelah Nadin memberikan surat, Digta datang ia berhenti pas di depan Pak Satpam yang masih ngobrol dengan Nadin,  Nadin kaget setelah melihat Digta datang,  tanpa mengucapkan salam pada Pak Satpam ia kemudian langsung pergi dengan langkah cepat karena ia gak mau Digta curiga.
Belum sampai meuju ruang kelas Nadin melihat murid murid berkerubunan di depan mading yang tak jauh dari kelasnya. Ia kemudian melihatnya, ternyata ada sebuah pengumuman lomba melukis antar sekolah se Yogyaakarta yang akan di laksanakan minggu depan di Gedung pameran terbesar di Yogyakarta. Setelah membaca pengumuman Nadin segera pergi ia merasa sesak dan engap bila terus berada di tengah tengah kerubunan banyak orang. Saat berjalan menuju kelas Sofi dan Nita memanggil Nadin,
“Naaddd....wait!!” Teriak Nita dengan suara cempreng nya..memanggil Nadin
“Hei Kalian..kalian baru dateng yaa??” jawab Nadin sambil memasukan hand phone nya kedalam tas
“udah dari tadi, kita abis liat pengumuman, kamu udah liat Nad??” tanya Sofi
“ahh  mau udah liat ataupun belum dia   pasti gak bakalan ikut perlombaan nya..!! ia kan Nad?” Tanya Nita sambil mengipas ngipas rambutnya..
“Aku udah liat pengumumannya ko..” jawab Nadin
“Nad udah kamu ikut aja, kamu kan jago ngelukis di tambah lagi kamu ikut kegiatan ngelukis di sanggar!” apalagi yang buat kamu gak yakinn buat ikut perlombaannya??” Sofi meyakinkan Nadin agar ia bisa ikut lomba
“ia Nad...aku aja yang ga jago jago amat ngelukis mau ikutan lomba!!” ujar Nita sambil terus mengipas ngipaskan rambut nya..
“HAHH?? Sofi dan Nadin kaget, karena baru pertama kali ini Nita megikuti perlomabaan,
“Biasaaa ajaa Jenggg...!!” mulut kalian bau tau..tadi  pagi pada gosok gigi gak siihh??’ Nita menjawab dengan candaannya.
“Ok Nad pokoknya kamu harus ikutan,  kalian berdua pasti aku dukung..dan kalau entar diantara kalian ada yang  menang berarti haruss siap nelaktir..!!” ujar Sofi sambil memegang tangan kedua temannya itu.
“ya ya....aku ikutan lomba!!” Nadin menjawab dengan sedikut ragu.

Nadin mengikuti perlombaan bukan karena ia mendengar Nita yang juga akan mengiikuti perlombaan, ia merasa kalau inilah saatnya ia menunjukan bakatnya pada semua orang, dan hanya sebuah apresiasi yang ia inginkan.
Sepulang sekolah Nadin di panggil oleh Pak satpam, melihat wajah Pak satpam yang terlihat senang Nadinpun segera menghampirinya, “Cah ayuuu ini ada balasan surat dari Digta, waktu jam istirahat dia memberikan surat ini pada Bapak” ujar Pak satpam sambil memberikan suratnya. “ Ya ampuun Pak aku seneng bangett,  akhirnya Kak Digta membalas suratku, terima kasih ya Pak??” Dengan perasaan senang ia mengucapkan banyak terima kasih pada Pak satpam. Dia memutuskan untuk membacanya di rumah, sesampainya dirumah Nadin dengan cepat membuka sepatunya karena ia sudah tidak sabar untuk membaca surat balasan itu. Dengan bersandar di jendela kamarnya yang terbuka iapun langsung membaca Surat balasan dengan amplop berwarna Mocca bergambar boneka Teddy bear itu .

From,
Cewek misterius berinisial ‘N’


Maaf sebelumnya aku gak pernah balas puisi puisi kamu, karena aku gakbisa membuat puisi dan sama sekali gak suka puisi, tapi setelah aku baca puisi pertama yang kamu kirim aku mulai menyukainya hingga aku semangat setiap kali membaca puisi puisi yang setiap pagi kamu kirim.
Aku gak tau apa maksud kamu ngirim puisi setiap pagi sama aku!
Puisi harapan, puisi perkenalan, puisi penyemangat, hingga puisi cinta, apakah dengan cara itu kamu memperkenalkan diri kamu sekaligus mengungkapkan rasa suka kamu sama aku??
Tapi sungguh, itu cara yang yang membuat aku takjub sama cewek seperti kamu,

            Puisi yang selalu menyemangatiku bahkan menyadarkanku pada satu hal. Dan..buat kamu si cewek misterius, dengan senang hati aku akan terus menerima surat surat yang kamu kirim. Aku harap kita bisa bertemu secepatnya.

                                                                                               Dear,
                                                                                              Digta                                                                     
Setelah membaca surat itu, Nadin langsung melemparkan tubuhnya ke tempat tidur, kemudian ia terus memeluk erat surat itu.
Kini malam tak lagi mendung dan turun hujan seperti malam sebelumnya, Kakek Nadin mengajaknya untuk melukis di luar rumah seperti yang biasa mereka lakukan. Setelah lumayan lama mereka melukis sang kakek mulai merasa aneh melihat cucu kesayangan nya melukis sambil senyum senyum,
“hei..kamu kenapa, kakek perhatikan sepepanjang melukis kamu senyum senyum terus,” ada apa ..kamu lagi seneng??” coba cerita sama kakek,” tanya kakek sambil  membersihkan kuasnya
“hemmm ia kek, Nadin lagi seneng karena Nadin udah mulai berani mengikuti lomba”
“Lomba melukis??” kamu serius?’ lomba melukis dimana?” Tanya kakek dengan wajah senang
“ia..Kek aku serius, lomba melukis antar sekolah se Yogyakarta tempatnya gedung pameran. Dan besok juga udah mulai seleksi, ”
“bagus cucuku..kakek senang sekali mendengarnya, kamu harus ingat menag ataupun kalah itu sudah jadi hal biasa, dengan kamu terpilih menjadi perwakilan sekolah saja pasti teman temanmu bangga dengan kamu” ujar sang kakek sambil memeluk cucu kesayangannya.
“ia kek Nadin akan berusaha memberikan yang terbaik, Nadin ingin membuat Kakek bangga sama Nadin. Dan kalau Nadin menang, Nadin akan mempersembahkan kemenangan Nadin nanti untuk kakek. Ujar Nadin sambil memeluk erat kakeknya..
Bagi Nadin tak ada seorangpun pembimbing lukis terhebat kecuali Kakeknya sendiri.

Siang Hari setelah pulang sekolah ruang aula mulai di penuhi oleh peserta yang sedang  mendaftar  untuk mengikuti seleksi lomba, setelah proses pendaftaran selesai hampir 26 orang yang mengikuti seleksi, mereka langsung menyiapkan alat lukis mereka  masing masing. Sebelum itu Mereka di beri arahan oleh kesiswaan tentang teknik dan tema lukisan. Setelah 15 menit diberi arahan, Kesiswaan dan guru seni rupa telah menyepakati kalau para peserta harus melukis dengan tema ‘KORUPSI’ . Dengan berbagai jenis aliran lukisan masing masing semua peserta mulai melukis. Tak berpikir panjang Nadin langsung melukis dengan mengikuti aliran Kakeknya yaitu ilustrasi, meskipun sebenarnya Nadin lebih suka aliran realis, tetapi ia yakin bisa melakukannya. 3 jampun berlalu, semua peserta telah selesai melukis dengan hasil yang bagus. Nadin sendiri melukis ilustrasi sebuah kursi jabatan yang di letakan di atas tumpukan lembaran uang dolar dan di kelilingi tikus tikus hitam berdasi, menututnya lukisan yang dia buat sangat sesuai dengan tema.  
Dari mulai pendaftaran sampai selesai melukis, Nadin tidak melihat Nita, ia nungak nengok sebentar ternyata  Nita berada di posisi paling depan, dari kejauhan ia melihat Nita sedang ngobrol dengan seorang cowok disampingnya yang entah siapa. Selama setengah jam proses penilaian lukisan, akhirnya Kesiswaanpun mengumumkan 2 pemenang lukisan terbaik yang lolos. Semua peserta yang mengikuti seleksi mulai tidak sabar untuk mengetahui siapa yang lolos, begitu juga Nadin yang dari tadi mengusap telapak tangannya yang terus berkeringat karena ia berharap ia yang lolos. “Yang lolos seleksi untuk menjadi perwakilan sekolah di lomba lukis se Yogyakarta adalah..Nadin Aubel Liyunda dari kelas XI IPS 2 dan Digta Pandawa Setyo dari kelas XII IPA 2.” Kesiswaan mengumumkan dengan suaranya yang lantang dan keras..
            Setelah mendengar hasilnya Nadin langsung terdiam kaku, ia tidak menyangka kalau Digta mengikuti seleksi dan lolos seleksi dengannya. Saat itu juga Nadin langsung berfikir pasti akan ada banyak cerita yang terkisah diantara mereka berdua pada nantinya. Mereka diminta kesiswaan maju kedepan aula untuk diberi selamat sekaligus menyerahkan rompi dan topi yang akan mereka kenakan saat lomba lukis dilaksanakan. Didepan aula terlihat jelas wajah mereka yang begitu senang, karena mereka akan  mengikuti lomba pertama mereka sebagai perwakilan sekolah.
3 hari sebelum lomba dilaksanakan Nadin dan Digta harus berlatih dan menerima pengarahan setiap pulang sekolah. Diruangan kelas yang kosong hanya ada mereka berdua dengan di temani seorang pembimbing yang hanya keluar masuk ruangan melihat mereka melukis.
“Gak nyangka banget ya Kak...kita bisa lolos menjadi perwakilan sekolah!!” Ujar Nadin sambil terus menggoreskan kuasnya ke kanvas.
“yaa..Kalo aku sih udah nyangka sebelum ikutan seleksi juga, pasti aku lolos” jawab Digta dengan juteknya..
“ihh Kakak sombong bangett..!’ jelas lah Kak Digta bakalan lolos, di sanggar kan Kak Digta pelukis terbaik yang sering mendapatkan penghargaan”
“iyaa...tapi disekolah, kita pelukis yang terbaik!! Benarkan..??’ Digta menoleh ke arah Nadin sambil tersenyum, 
"iyaa Kak, dan kita juga harus memberikan yang terbaik untuk sekolah" 
Dalam 3 hari itulah  mereka jadi lebih akrab, saat sedang berlatih Nadin selalu mengajak Digta bercanda, sehingga ia tertawa lepas, Nadinpun terpaku melihat senyuman dan tawa Digta yang baru pertama kali ia lihat. dan mereka juga jadi suka pulang bareng. 
Lomba melukis antar sekolah se Yogyakarta akhirnya mulai di selenggarakan, sekitar 82 orang perwakilan dari tiap sekolah serempak menggunakan topi dan rompi yang sama. Setelah 20 Menit acara pembukaan, Ketua Pelaksana perlombaan menjelaskan  bahwa waktu melukis para peserta Maximal hanya 4 jam dan bertema lukisan “Love Java”, 2 orang dari tiap perwakilan sekolah juga harus melukis dengan aliran yang satu realis dan yanng satu lagi surealisme. Nadin dan Digta memiliki nomer peserta 19 dan 20 sehinggga posisi mereka bersebelahan, 5 menit lomba lukis dimulai Nadin masih berfikir, dia bingung harus melukis apa, Digta yang sudah mulai menggoreskan kuasnya  melihat Nadin yang yang masih bingung,

“Nad, kamu kenapa??” yang lain sudah pada mulai kamu masih aja  pelangak pelongok”
“Kak..aku bingung nihh harus melukis dg judul apa??” Jawab Nadin sambil menggaruk garukan kepalanya
“Kakak melukis aliran surealis kamu yang melukis aliran realis, sekarang coba kamu pejamkan mata, kamu rasakan dan pikirkan tentang Jawa atau kota istimewa yang kamu cintai ini” ujar Kak digta sambil memegang tangan Nadin, Nadinpun memejamkan matanya dan berfikir.
“aku tau Kak!!, aku tau apa yang harus aku lukis” Nadin membuka mata dan langsung menggenggam kuasnya kemudian iapun mulai melukis.
Cara digta yang seperti itu selalu ia ajarkan pada anak anak yang baru belajar melukis di sanggar. “melukis dengan perasaan dan fikiran yang tenang akan serasa berada di surga khayalan”. Ujar Digta sambil melihat ke arah Nadin, dan Nadinpun tersenyum.
 4 jampun berlalu, semua pesrta diminta untuk membereskan alat lukisnya masing masing. Nadin merasa puas dengan hasil lukisnya yang ia beri judul “Tarian Bedaya Keraton Yogyakarta”, Yang melukiskan 9 orang penari di kraton Yogya dan 11 orang pengiring alat musik yang di tonton oleh puluhan tamu tamu penting dari Eropa.Tak kalah dengan Digta, Digta juga melukis dengan judul “Prajurit kraton Yogyakarta”. Hasil lukisan di tilai dan di apresiasi oleh pelukis pelukis ternama di Yogyakarta selama satu jam kemudian hasil pemenang juara 1,2,3 lukisan aliran Surealisme dan pemenang juara 1,2,3 lukisan aliran Realis di umumkan. Nadin dan Digta dengan di dampingi kesiswaan dan Guru seni rupa saling berpegangan tangan dan tak henti hentinya berdoa, berharap mereka bisa menjadi pemenang dan membawa nama baik sekolah. 
“Baiklah para hadirin semuanya kita langsung umumkan pemenang juara pertama lomba lukis aliran Surealime antar SMA/SMK/sederajat adalah........Digta Pandawa Setyo dari SMA Negeri 9 Yogyakarta dengan judul lukisan Prajurit Kraton Jogja.” Dan Juara pertama lomba
lukis aliran Realis adalah Nadin Aubel Liyunda dari SMA Negeri 9 Yogyakarta dengan judul Lukisan Tarian Bedaya Keraton Yogyakarta.” Seorang laki laki berjas hitam mengumumkan pemenang perlombaan lukis dengan semangat.
Tangan yang tadinya saling berpegangan lalu terlepas setelah mendengar kejuaraan diumumkan, Digta yang terkejut dan senang langsung memeluk Nadin dengan erat, Nadin hanya diam dan perlahan ia mengeluarkan airmata bahagianya, saking senangnya Digta tak sadar kalau ia telah memeluk Nadin lumayan lama lalu iapun  melepaskan pelukannya dan meminta maaf.
Tepat hari Senin setelah upacara selesai, semua murid tidak langsung kembali kekelas karena mereka harus menyaksikan penyerahan piala kejuaraan lomba lukis kepada sekolah. Nadin dan Digta dengan seragam yang rapih berjalan ketengah lapangan dengan membawa piala yang cukup besar, mereka berdua sangat bangga bisa menyumbangkan piala penghargaan dari hasil bakatnya. Nita yang berada di barisan merasa kesal dan cemburu melihat kedekatan Nadin dan Digta, namun Sofi berusaha menenangkan dengan mengusap pundaknya.
 Dan sekarang di kelas Nadin menjadi pusat perhatian teman temannya, wali kelas Nadin juga merasa bangga denganya ia berharap supaya Nadin terus membawa nama baik bagi sekolah, dan kelasnya. Namaun bagi Digta itulah kali pertama dan terakhir ia menyumbangkan piala penghargaan dari hasil bakatnya pada sekolah, karena ia sudah kelas 3 dan sudah harus fokus dengan Ujiannya yang tinggal beberapa minggu. Selama 2 Minggu kelas 3 mengikuti pelajaran tambahan yang akan diujinakan akhirnya Ujian Praktikum dan Ujian Sekolah telah berakhir, kini kelas 3 hanya tinggal mengikuti Ujian Nasional, namun 2 hari sebelum ujian Nasional dimulai Digta berniat untuk mengetahui siapa sebenarnya cewek yang suka mengirim surat tiap pagi padanya, pulang sekolah Digta menghampiri Pak Satpam yang sedang duduk sambil membaca koran,

“Selamat siang Pak..Yono?? tanya Digta so akrab
“eh, Digta..selamat siang jugaa..” jawab Pak satpam dan langsung meminum kopinya
“Pak, Besok lusa saya kan mau ujian, nahh saya tuh pengen tenang pas melaksanakan ujiannya, jadi sekarang saya belum tenang karena belum tau siapa cewek yang suka ngasih saya surat itu, ayo lah Pak..siapa sih cewek itu??’
“eemmm...emmmm..maaf..maaf sekali Bapak tidak bisa kasih tau, maaf ya” Pak satpam langsung lari menuju uempat parkir.
“yaaahh Si Pak yono malah lari..” ujar Digta dengan wajah kesal, kemudian ia menaiki motor nya untuk pergi pulang. Baru saja Digta menyalakan motor nya tiba tiba Nita datang dan langsung meminta maaf, ia berpura pura pada Digta kalau selama ini dialah yang selalau mengirim surat setiap pagi pada Digta, Digta dengan sontak kaget ia tidak menyangka dan sedikit gak percaya kalau Nitalah cewek misterius yang selalu megirimnya surat, 
“Jadi kamu yang setiap pagi suka ngirimin aku surat??” tanya Digta dengan seidikit ragu
“ia kak,  maaf ya...dan aku lakuin semua itu karena aku suka sama Kakak!!” Jawab Nita sambil terus menunduk.
“iyaa it’s oky..Kakak gak nyangka aja kalau kamu si cewek misterius itu.”
“heemm Kak, aku boleh gak pulang bareng sama Kakak??’ tanpa rasa malu Nita langsung meminta pulang bareng dengan Digta, dan Digta hanya menganggukan kepala. 

Sebenarnya bukan Nita yang selalu megirim Digta surat, ia menguping pembicaraan Digta saat menanyakan siapa pemngirim surat itu pada Pak Satpam. Jelas Digta sedikit percaya pada Nita karena di surat itu terdapat pengirim berinisial huruf  N.
Dari kejauhan Nadin dan Sofi melihat Nita yang sedang di bonceng oleh Digta  keluar dari gerbang sekolah, Nadin heran kenapa Nita bisa sedekat itu sama Digta, ia berfikir kalu Nita dan Digta sudah benar benar pacaran, dan lagi lagi Sofi hanya menenangkan Nadin yang sedang memanas kemudian ia mengusap pundaknya. Selama ujian Nasional Kelas XII berlangsung,  Kelas X dan XI belajar dirumahnya masing masing. Selama itu juga Nadin sudah tidak lagi menitipkan surat untuk Digta, harapannya punah, ia merasa sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya agar bisa dekat dengan Digta.
Di sanggar Nadin juga sudah tidak lagi melihat Digta yang selalu melukis dengan ditemani tawa anak anak yang selalu ia ajari, ia hanya bisa melihat poto potonya yang ia ambil ketika Digta tengah lengah atau sedang asik melukis.

                                       .......................................




CINTA DIBALIK KUAS & PENA Part 2



“maaf, di sanggar ini gak ada bidang fhotografi” ujar cowok itu sambil sedikit marah
“kamu??” tanya nadin sambil kaget melihat cowok yang memarahinya
“loh!! Kamu kan yang kemarin kepalanya kena bola di pinggir lapang sekolah itu kan?? Tanya cowok itu sambil mengingat ngingat.
“iyaa, aku yang kemarin kamu timpuk pke bola di lapang dan aku juga yang kemarin lusa kamu bentak bentak di galery lukisan!! Jawab Nadin dengan wajah kesal
“oh, sory sory ya.., kamu anggota sini kan? Knapa kamu malah poto poto sedangkan anggota yang lain sudah masuk ke ruangan!”
“iya, tapi aku udah dapet izin ko buat mendokumentasi kegiatan disi selama satu jam!” jawab Nadin sambil terus memoto
“ ya udah, tapi konsisten satu jam” ujar cowok itu sambil berjalan masuk ke ruangan.
“eh tungu tunggu.. !! Nadin mengejar cowok itu dan cowok itupun berhenti
“Apa??”
“Aku Nadin, kamu siapa?? Ternyata kita satu sekolah dan memiliki hoby di bidang yang sama yaahh..” tanya Nadin sambil mengulurkan tangan nya
“aku Digta anggota senior di bidang lukis “ jawab Digta dengan muka jutek dan langsung pergi
“uuucchh jutek banget tuh cowok!!, mentang mentang senior” nadin kesal dan ia langsung menghelakan nafas
“Digta tuh orang nya gitu, jutek, kalem, tapi dia baik ko.” Seorang perempuan yang tiba tiba berada di belakang Nadin menenangkan Nadin yang sedang kesal pada Digta.
“hay..aku lidya? Kamu anggota baru sini ya?? Kita bisa jadi teman kan?” tanya perempuan itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangan
“hay aku Nadin, ia aku anggota baru..Tentu lidya, kita sekarang teman” jawab Nadin dengan perasaan senang karena ia memiliki seorang teman di sanggar, kemudian merekapun tertawa kecil sambil terus berjalan.

 Tak terasa sudah sampai lagi pada Minggu ke dua Nadin mengikuti kegiatan dibidang lukis, Disekolah Nadin harus mengikuti pelajaran tambahan sampai jam 2 siang,  ia takut sekali terlambat mengikuti kegiatan di sanggar. Setelah pelajaran berakhir nadin langsung keluar kelas. Biasanya setiap jam pulang sekolah taxi taxi suka berjajar di depan gerbang sekolah, tapi kali ini tidak ada satupun taxi yang melintas, Nadin panik karena ia sudah benar benar terlambat. Tak lama kemudian sebuah motor besar berwarna hitam berhenti di depannya, waktu kaca helm nya dibuka ternyata cowok yang mengendarai motor itu adalah  Digta,
“kamu lagi ngapainn, kamu gak ke sanggar??” tanya Digta lembut dan dengan wajah nya yang kalem
“ia ini juga aku mau ke sanggar , dari tadi aku nunggu taxi tapi gak ada yang nongol satupun, aku udah telat nihh..”jawab Nadin sambil melihat jam ditangannya
“kenapa gak bareng aja?? “ aku juga kan mau ke sanggar”
“kenpa kakak gak nawarin dari tadi??’ Nadin langsung naik ke boncengan Digta
“ya ampun ..basa basi dulu kek Malah langsung nangkring diboncengan aja nih anak.”
“Kalo pake basa-basi kelamaan, keburu basi beneran. Udah deh cus, keburu terlambat nih kita.”

Selama di perjalanan Nadin tersenyum dia senang sekali bisa bareng ke sanggar bersama digta, dan Lidya benar Digta memang jutek dan kalem tapi Digta adalah orang yang baik.  Di sanggar Digta tak hanya anggota senior dia juga salah satu anggota yang memiliki banyak prestasi dan banyak penghargaan penghargaan dari karya lukisnya, Nadin tau semua itu dari Lidya yang banyak  sekali bercerita tentang Digta. Beribu pertanyaan dalam pikirannya  karena di sanggar Digta adalah cowok populer dan memiliki banyak prestasi tapi di sekolah dia hanya terlihat siswa yang biasa biasa saja bahkan kebanyakan orang tidak mengenal dia.
Dan di juga tidak pernah menyumbangkan satupun piala dari bakatnya di bidang lukis, padahal tiap tahun selalu ada pengumuman lomba melukis antar sekolah, antar kota, dan juga antar provinsi.
Setelah hampir satu bulan Nadin mengikuti kegiatan di bidang lukis sanggar bambu dia mulai merasakan hal yang aneh pada dirinya, ia diam diam suka memoto Digta saat digta sedang melukis atau mengajarkan melukis pada anak anak, ia juga menjadi salah tingkah setiap kali bertemu Digta di sanggar ataupun di sekolah. Karena sikapnya yang jutek dan kalem Nadin jadi ingin tau banyak tentang Digta ,entah kenapa mungkin dia menganggap dirinya sedang mengalami jatuh cinta.
Dipagi hari sebelum berangkat sekolah Nadin menerima sbuah surat dari Pak pos untuk di sampaikan kepada Kakeknya. Terlintas dalam pikirannya saat ia menerima surat itu, ia tau caranya agar ia bisa mengetahui banyak hal tentang Digta tanpa diketahui oleh Digta sendiri. Nadin membuat surat yang berisikan sebuah puisi karena selain  suka melukis dia juga suka membuat puisi, dengan datang kesekolah lebih pagi  ia kemudian menitipkan suratnya pada Pak Sudaryono satpam di sekolahnya.
“Selamat Pagi Pak Yono...??” Pagi hari yang cerah ya pakk? hihii”.  tanya Nadin sambil tersenyum senyun menyapa satpam tersebut.
“Selamat pagi cah ayuuu, tumben datang nya pagi pagi sekali?” tanya pak yono yang ramah
“Ia, ini loh Pk..saya mau minta tolong sama Bapak, boleh?” Nadin mulai merayu Pak Yono agar Pak yono bisa membantu misinya.
“Boleh, Minta tolong apa to cah Ayu?”
“Gini Lho Pak, saya tuh sedang suka sama seseorang, dan saya meminta bantuan Bapak untuk memberikan surat ini sama orang yang aku suka itu!”
“Aduuhh anak jaman sekarang ada ada aja...iya boleh boleh”. Ujar Pak Yono sambil mengeleng gelengkan kepala..
“Asiiiikkkk, ya ampun Bapak baik banget!! Tenang Pak Bapak akan saya kasih komisi deehh
  Ujar Nadin dengan perasaan gembira karena Pak Sudaryono mau menolongnya.
“Ini Pak surat nya, Bapak Tau Kak Digta kan?? Anak kelas 3 IPA 2 yang selalu naik motor Besar berwarna hitam, tau kan Pak?” Tanya Nadin pelan
“ohh..si Digta, ia Bapak tau!!
“Ya udah pak ini surarat nya, aku akan nitipin surat setiap hari pada Bapak, dan kalau ada balasan nanti bapak kasih tau aku pas bubar sekolah.’ Ujar Nadin sambil menjelaskan dengan suara pelan.
“oh ya Pak, bapak jangan kasih tau Kak Digta kalau surat itu dari aku, Bapak harus tutup mulut OK??’
“Iya, SIAP!!!’ Misi di jalankan!! Jawab Pak Sudaryono sambil Hormat pada Nadin

Kini setiap Hari Nadin Berangkat kesokah lebih pagi, setelah hampir seminggu menitipkan surat pada Pak satpam, Nadin belum juga menerima balasan suratnya. Tapi Ia tetap sabar.
Dikelas Sofi tiba tiba curhat masalah pacarnya pada Nadin, Sebagai teman yang baik Nadin mendengarkan curhatananya, tak lama Sofi curhat, Bu guru datang dan jam pertamapun dimulai. Seperti biasa Guru Matematika menyuruh Nadin mengambil Buku di perpustakaan, kali ini Nadin ditemani Sofi karena Nita belum datang dan ada kemungkinan ia terlambat.
Diperpustakaan  gak sengaja Sofi melihat Nita berdekatan dengan  Digta yang sedang  menulis, ia memberitahu Nadin dengan suara pelan tapi Nadin  terus membereskan buku yang akan dia ambil, setelah selesai mengambil semua buku Nadin langsung menoleh ke arah Nita yang sedang ngobrol dengan Digta, Nadin terkejut, ia terus menatap mereka berdua , perasaan sakit membuatnya perlahan mengeluarkan butiran air mata. Nita memanggil Sofi dan Nadin yang sedang berdiri melihat kedekatannya dengan Digta, Digtapun menoleh tapi Nadin dan Sofi langsung pergi keluar perpus. Sambil berjalan menuju kelas Nadin bertanya pada Sofi,
“Fi, apa selama ini cowok yang disukai Nita itu..Kak Digta?” tanya Nadin sambil menahan air matanya agar tidak terus keluar
“Ia Nad, maaf ya aku gak cerita sama kamu, Nita gak mau kamu tau kalau dia sedang suka sama cowok” , Nad..? Kamu nangis??” Tanya Sofi sambil memegang tangannya Nadin
“enggak, aku aku gak nangis..” Jawab Nadin sambil menundukan kepalanya
“Nad, aku tau kamu nangis, apa jangan jangan kamu juga suka ya sama Kak Digta?”
“aku ceritakan semuanya pulang sekolah nanti yah Sof?”
“Ia....  
Jam pelajaran pertama Nita tidak masuk, ia lebih memilih ngobrol dengan Digta di perpustakaan. Saat Bu Guru menanyakan Nita pada Sofi,  Sofi  bilang kalau Nita sakit dan sedang berada di UKS.
Pada jam istirahat , Nita menceritakan pada Sofi dan Nadin tentang kedekatannya dengan Digta, Sofi hanya tersenyum dan mengangguk anggukan kepala, sedangkan Nadin ia hanya membaca buku dan pura pura tidak mendengar. Seperi janjinya pada jam terakhir Nadin dan Sofi duduk di taman dan mulai bercerita,

“Nad coba sekarang kamu cerita kenapa kamu nangis?” Sofi menenagkan Nadin yang mulai lagi mengeluarkan air mata

“Sof, sebenarnya aku dan Kak Digta udah saling kenal, dia ternyata anggota senior di bidang lukis Sanggar Bambu, awalnya aku benci banget sama dia karena dia pernah membentak aku, dan dia tuh orang nya jutek banget, tapi entah kenapa dengan sikapnya yang seperti itulah aku jadi suka dan ingin tau banyak hal tentang dia. Nadin menceritakan dengan wajah sedih

“ohh, jadi Kak Digta anggota Sanggar Bambu juga ya.” Kenapa kamu gak cerita dari awal sih Nad?” aku pasti bantu kamu.., lagian aku juga gak suka ngeliat Nita yang terlalu posesif sama Kak Digta”. Sofi yang kesal sambil memukul telapak tangan sebelahnya

“Kamu tau aku kan, mana pernah bisa aku curhat masalah pribadiku sendiri!” ya udahlah toh mereka juga saling suka ini, biar aku yang ngalah” jawab Nadin sambil mengusap air matanya.

“yang sabar ya Nad.. kalau jodoh itu gak bakan kemana, jadi kamu tenang aja.yaa. “

“Iya, hemmm Sof ada satu hal lagi yang ingin aku ceritain ke kamu, tapi kamu jangan kasih tau siapa siapa yaa??”

“Iya, aku janji dehh..apa apa?” Sofi mulai penasaran
“ Gini loh,, udah seminggu ini tiap pagi pagi sekali aku suka nitipin surat yang berisi pusisi dan kata kata penyemangat gituu...aku titipin ke satpam buat di kasih ke Kak Digta. Aku kasih dia komisi dengan syarat dia tidak akan ngasih tau sama Kak Digta kalu aku yang suka ngasih surat itu..” Nadin menceritakan dengan sedikit malu..

“wiiihh..jadi kamu itu penggemar rahasia gituh??’ hebat banget cara kamu..Nad.”
“yaa gituu..dehh, tapi sampai sekarang dia gak pernah bales surat aku.” Nadin mulai cemberut..dan menundukan kepala
“Suatu saat dia pasti balas surat kamu Nad, sabar sabar...” Ujar Sofi sambil mengelus ngelus pundak Nadin. Lumayan lama bercerita akhirnya Nadin merasa sangat Lega, sudah menceritakan rasa sedih sekaligus rasa senangnya  pada  Sofi,  karena memang tak selamanya masalah pribadi bisa dipendam dan dirasakan sendiri, dengan berbagi, bebanpun terasa berkurang.

Malam hari hujan turun deras, padahal malam itu Nadin dan Kakek nya akan  melanjutkan lukisannya, sambil menunggu hujan reda Nadin menulis puisi buat ditipkan besok. Kali ini Nadin menulis puisi tentang sikap tertutup yang di miliki Digta, dan ia ingin menjadi penyemangat dalam setiap langkah hidupnya kelak..

 to : Kak Digta
Sekian lama pedih itu kau simpan
Menahan beratnya berjalan sendiri
Dalam kehampaan
Sekian kali kau merasa sepi
Sekian peluh kau tanggung sendiri
Masih adakah sedikit bahagia dalam hatimu
Akankah kau terbang sendiri dengan sayapmu
Menahan beratnya beban di pundakmu
Akankah kau mampu membawa itu semua
Ke dalam mimpimu
A little hope that we believe
Will make much miracles in our life
Percayakan pada semua yang menjagamu
Percayakan hatimu pada diriku
Di sini kita berbagi
Mencari sebuah jalan lain dari kehampaan ini
Aku akan terbang bersamamu
Agar ku bisa menahan peluh di hatimu
Akankah tetap kau terbang sendiri dengan sayapmu
Melalui harimu yang penuh sepi
Sanggupkah kau bertahan selamanya
Di dalam mimpimu
A little hope that we believe
Will make much miracles in our life
Sadari bahwa kau tak bisa terbang sendiri
Melintasi mimpi hidup di dunia ini
Bersama kita lalui
Bersama kita lewati
Leave all the pain
And make our life beginning            

  
Kak Digta, aku harap Kakak membalas puisi ini, gak harus dengan puisi cukup dengan kata kata Kakak sendiri.                          
                                                                                                         Dear,
                                                                                                       Inisial 'N'
                              
                            
Surat telah selesai dibuat,  Nadin kemudian memasukan suratnya kedalam amplop yang berwarna mocca dan bergambar hati. Saat itu hujan belum juga reda malampun semakin larut. sambil membawa peralatan melukis Kakek menyuruh Nadin untuk segera masuk ke dalam rumah,dan mereka berencana untuk  melanjutkan melukis besok malam.  

                                      ..............................................................

CINTA DIBALIK KUAS & PENA Part 1





Dibawah sinar bulan dan binaran bintang, di halaman rumah yang cukup luas telah tertata 2 alat lukis dengan kuas yang berjajar di atas meja kecil dan kanvas yang masih putih untuk menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi seorang gadis manis yang bernama Nadin dengan ditemani seniman Lukis yang ternama di tahun  80 an yaitu Kakeknya sendiri, Nadin diajarkan melukis oleh kakeknya sejak ia duduk di bangku SMP kelas 2, karena saat itu ia baru benar benar merasakan indahnya dunia lukis. Sudah  3 tahun setiap 2 kali dalam seminggu mereka melakukan kegiatan melukis di malam hari, tapi saat musim hujan mereka melukis di dalam rumah. Melukis dimalam hari memberikan kesan tersendiri bagi mereka, dan bagi Nadin sendiri melukis menjadikan dia serasa berada di dunia lain. 

“kakek??  kalau aku ngelukis mimpiku sendiri, mungkin gak mimpi itu  jadi kenyataan ? Tanya Nadin sambil tersenyum manis dan terus menggoreskan kuasnya.
‘’ kenapa gak mungkin  cucuku, bermimpi itu sama seperti  saat kita sedang melukis, yang hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri. Ya...lukis saja, siapa tahu setelah kamu lukis kamu akan berusaha meraih mimpi itu”. Jawab kakek lembut.
“ia kek, setelah lukisan ini selesai nadin akan melukis mimpi nadin” ujar nadin sambil membereskan cat nya..
“ya sudah, kita beres beres, udah malam besok kamu kan mau daftar jadi anggota lukis di Sanggar Bambu.!”
Keesokan harinya tepat hari Minggu, Nadin di temani Kakeknya ke sebuah Sanggar yang bernama Sanggar Bambu, di sanggar itu terdapat beberapa bidang yaitu lukis, teater, musik dan sastra, dan kebetulan pendiri sanggar itu adalah teman dekat kakeknya sendiri, Nadin sebenarnya sudah cukup menyenangkan dengan hanya diajarkan oleh Kakeknya, tapi sang Kakek menyuruh Nadin menjadi anggota lukis agar dia bisa mengapresiasi lukisannya dan mempunyai wawasan. Saat kakeknya sedang mendaftar, Nadin masuk kedalam beberapa ruangan, ia melihat banyak sekali anggota di sanggar itu yang sedang asik melakukan kegiatannya masing masing, mulai dari anak kecil sampai remaja seusianya. Langkah nya terhenti saat ia melihat sebuah ruangan yang ternyata gallery lukisan, dengan takjub ia masuk keruangan yang tak berpintu itu dan melihat puluhan lukisan yangsangat tertata rapih,
“HEII...!! seorang laki laki datang dan mengagetkan Nadin yang sedang menyentuh lukisan..
“ kamu siapa? Kamu bukan anggota sanggar sini kan? Kenapa kamu nyentuh lukisaan itu?
   Kamu gak liat  ada larangan “JANGAN DISENTUH”. Ujar laki laki itu sambil sedikit marah..
“iya aku bukan anggota sanggar ini, tapi aku sedang daftar buat jadi anggota di sanggar ini ko..! Hemm, maaf aku gak liat larangan itu..” Jawab Nadin dengan wajah polos dan gugup, lalu ia  lari keluar dan menghiraukan laki laki itu.

Nadin menghampiri Kakeknya di tempat pendaftaran, dan Ia mulai mengisi formulirnya. Setelah selesai pendaftaran Nadin akhirnya resmi menjadi anggota di bidang lukis sanggar Bambu, dan sudah bisa mulai mengukuti kegiatan minggu depan pada hari Sabtu dan Minggu sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahu Nita dan Sofi teman baiknya di sekolah.
Setiap hari Nadin selalu di antar kesekolah oleh Ayah dan Ibunya yang kebetulan akan berangkat kerja, karena pekerjaan orangtuanya yang sangat sibuk itulah Nadin lebih dekat dengan Kakeknya daripada dengan Orangtuanya, tapi ai berusaha mengerti dengan semua itu.  Disekolah Nadin adalah sisiwi kelas 2 yang terbilang pintar dan rajin. Tapi ia tidak sombong dengan kemapuannya, begitu juga kemampuannya di bidang lukis, setiap ada perlombaan melukis antar sekolah Nadin belum pernah merasa yakin jika ia bisa mengikutinya. Dia tidak berharap menang tapi jika kalah ia akan kecewa dan juga mengecewakan sekolahnya. Karena itulah tidak banyk orang yang tau tentang bakatnya. Setelah jam pertama selesai Nadin menceritakan pada temannya kalau ia sudah menjadi anggota lukis di Sanggar Bambu, kedua temannya terlihat senang mendengar kabar baru itu, dan mereka juga mengucapkan selamat. Pada jam kedua tepat pelajaran Matematika, Bu guru meminta Nadin dan Nita mengambil beberapa buku di perpustakaan, setelah mengambil buku tiba tiba Nita ingin melihat kelas 3 yang sedang bermain futsall,

“Nad liat yang main futsall dulu yukk...bentaaaar ajaa". Ujar Nita sambil memaksa
“ihhh ini bukunya di tunggu loohh”
“Nad bentar aja aku pngen liat seseorang niihhh..” paksa Nita smbil menarik narik tangan nadin.
“ya udah, tapi bentar ya..Cuma liat doang!!” jawab Nadin dg sedikit kesal.

Setelah sampai dilapang Nita terlihat senang sambil bersorak sorak menyemangati cowok yang sedang di lihatnya, sampai sampai tidak mendengar nadin yang terus mengajaknya untuk kembali ke kelas. Akhirnya dengan wajah kesal Nadin meninggalkan Nita saat akan kembali ke kelas belum jauh meninggalkan lapang sebuah bola melayang  dan mengenai kepala Nadin, Nadin tejatuh dan buku yang dia bawapun berceceran ,
‘AAWWWW.. sakittt” nadin  kesakitan sambil mengusap usap kepalanya..
“ya ampuun Nadd?? Kamu gak papa??
“gakk papa gimana?? Sakitt tauu..., Ini gara gara kamu ya niitt, kamu ngajak aku kesini.. sontak Nadin yang marah dan menyalahkan Nita.
“ko gara gara aku..sihh??”
“heii kamu gak papa kan? Sory yaa tadi aku nendang bola nya terlalu keras. Ujar cowok yang tergesa gesa menghampiri Nadin sambil meminta maaf.
“iya gak papa ko. . “ Jawab Nadin kaget dan menatap cowok yang ternyata cowok nyebelin yang membentak nya di gallery lukisan kemarin.
Saat Itu Nadin langsung menutup wajahnya dengan buku, ia membereskan bukunya yang berceceran dan langsung pergi menuju kelas.

Cowok nyebelin yang membentak Nadin di galery lukisan ternyata satu sekolah dengannya, saking banyaknya murid di sekolah itu Nadin baru tau kalau dia satu sekolah dengannya dan dia murid kelas 3.
Nadin berharap hari ini dia tidak bertemu lagi dengannya disekolah, sampai waktu jam istirahat selesaipun Nadin tidak keluar ia memiilih diam dikelas sambil iseng menggambar. Jam terakhirpun selesai Nadin bergegas lebih dulu meninggalkan kelas karena ia harus mengikuti kegiatan pertamanya di Sanggar Bambu.
Setelah sampai di sanggar Nadin langsung ke toilet untuk mengganti baju seragamnya agar saat melukis seragam sekolahnya tidak kotor. Hari pertama mengikuti kegiatan Nadin langsung di suruh gabung dengan anggota baru yang lainnya untuk di beri arahan, tiap anggota sudah di siapkan satu paket alat melukis termasuk kanvas dan standar lukis. Pengarahan berlansung sampai waktu kegiatan selesai yaitu jam 5 sore.
Keesokan harinya sbelum berangkat ke sanggar Nadin menyiapkan kamera untuk memphoto setiap kegiatan disana, karena kemarin ia sudah mendapat izin dari pengurus.
Disanggar, Nadin lebih dulu memulai untuk memphoto kegiatan bidang lukis, saat sedang asik poto, ada seorang cowok yang menepuk pundaknya dari belakang, Nadin langsung membalikan badan,

                                             ..............................